(refleksi sosial tentang masyarakat
ideal, keluarga dan Ibu oleh Muhammad Yusuf Abdul Karim, mahasiswa Universitas
Mercu Buana Jakarta)
Pada
suatu negeri nan jauh disana, jauh dari pandangan manusia modern. Ditengah
padang rumput hijau, panas, kadang kering, kadang hujan. Luas tanpa sekat,
tanpa batas yang mengikat. Dimana hidup hanya sesederhana bangun, berburu,
makan, minum, menggandakan diri, kemudian tidur kembali. Dimana hidup Bersama
adalah jalan satu-satunya untuk bertahan. Dimana kesendirian adalah jalan yang
tak mungkin dipilih. Dimana segala sesuatu yang tersedia adalah milik Bersama
yang dipakai Bersama, tanpa kepemilikan individu semata.
Di
negeri tersebut tidak ada raja yang diangungkan. Tidak ada bangsawan yang
dipertuankan. Tidak ada uang yang dipertuhankan selain hanya untuk sekedar
dipertukarkan. Hanya ada manusia yang dipercaya berdiri tegak memimpin yang
lain. Dihormati karena bisa berpikir lebih dari sekedar hari ini. Disayangi
karena mampu memberi rasa aman bersama di atas bumi. Dihormati karena
senantiasa membersamai dan mengayomi. Pemimpin yang mau berusaha bukan sekedar
untuk diri dan golongannya. Namun berjuang yang terbaik bagi masyarakatnya dan
juga negaranya.
Disana
bukannya tidak ada perbedaan. Semuanya ada disana, hitam putih dan spektrum
diantaranya. Besar, kecil dan ukuran yang beragam disana. Disana bukannya tidak
ada yang lemah, miskin dan tak berdaya. Disana bukannya semua serba sudah baik,
serba berkecukupan dan serba selaras dalam harmoni. Akan tetapi mereka sadar
berbeda itu keniscayaan. Orang yang berbeda itu bukan berarti musuh yang harus
dihancurkan. Namun perbedaan adalah kesempatan untuk saling mengenal dan
memahami. Perbedaan itu adalah kesempatan saling untuk membantu dengan sesuatu
yang kita miliki lebih disbanding yang lain. Dan bisa dibilang musuh
sesungguhnya bukan lagi sesama manusia, melainkan kesombongan, kebodohan dan
keserakahan yang saling menghancurkan satu sama lain.
Gambaran
3 paragraf tadi adalah potensi Indonesia sebagai masyarakat sosial yang ideal.
Negeri yang begitu beragam, berbeda, dan kaya. Dimana manusianya seperti
mangkok bakso. Putih di luar dan dalam. Bergambar ayam yang menunjukkan
ketegasan sebagai identitas unik yang membedakan dari yang lain. Berisi beragam
makna karena bermacam-macam pula isinya. Ditengah kuah kaldu yang menghampar ada
daging bulat yang menjadi fokus utama. Ada bihun dan mie kuning yang
mendampingi. Sedikit sayur hijau dan kecambah memberikan tambahan warna yang
menyenangkan. Lalu kecap dan sambal yang makin memeriahkan suasananya.
Negeri
semangkok bakso adalah gambaran Masyarakat Indonesia yang majemuk. Dia bisa
berada dimanapun dan berisi apapun. Dia bisa berada di pinggir jalan, rumah
bahkan pusat perbelanjaan. Tidak harus bakso semata, bisa saja mie ayam atau
bubur ayam. Dia begitu tegas dan seragam namun siap untuk menjadi berbeda dan
Bersatu. Bertumpuk, Bersama, berkumpul disudut gerobak dan dapur. Bersiap
menghadapi pesanan yang datang bertubi.
Walaupun
mungkin negeri mangkok bakso ini masih ada dalam cita-cita dan imaji. Namun ia
bukan sekedar fantasi yang tak mungkin jadi nyata. walaupun mungkin negeri ini
sangat jauh dari yang dicita-citakan bukan berarti kita bisa pergi dan kemudian
“kabur aja dulu”. Karena disinilah kita berdiri, hidup dan kemudian mungkin
mati. Karena tanah dan airnya-lah yang menjadikan kita hadir saat ini. Disinilah
kita pernah menjadi bibit, kemudian tumbuh, menjalin cinta bahagia, sakit dan
tertawa. Jika bukan kita yang memperjuangkan, maka siapa lagi? Jika bukan saat
ini, maka kapan lagi? Terasa berat? Iya betul, karena pada akhirnya memang negeri
mangkok bakso bukanlah pemberian namun perjuangan.
Perjuangan
memang adalah kunci dari negeri mangkok bakso. Pertanyaan besarnya, “bagaimana
pada akhirnya kita bisa turut berjuang”. Sedangkan kita saat ini mungkin hanya
sekeping bagian mangkok yang terlanjur retak dan pecah. Hancur berkeping-keping dari dalam karena ayah yang
tak pulang dan ibu yang tak hadir. Hancur berkeping tajam terasah kerasnya
keping yang lebih dulu hadir. Hancur menjadi keping yang lebih kecil lagi
ditengah keluarga yang tak berfungsi. Bukan karena mereka tak ada secara fisik.
Tapi mereka tiada dalam konteks makna, peranan, dan harapan. Karena hakekatnya perjuangan
yang mendasar sesungguhnya bermula dari keluarga.
Karena
negeri mangkok bakso ini takkan pernah ada tanpa keluarga yang solid
didalamnya. Karena perjuangan adalah kunci dan fondasi perjuangannya bermula
dari keluarga. Maka bersiapkah anda menjadi keluarga yang siap menciptakan
kepingan-kepingan terbaik negeri mangkok bakso ini. Atau anda justru yang akan
menghancurkan kepingan mangkok bakso berikutnya?
Dan
Ketika membicarakan keluarga tak lengkap rasanya tak membahas Ibu. Seorang
tokoh sentral yang menciptakan surga dunia di rumah. Bermula dari seorang
wanita yang berjanji setia kepada lelakinya. Kemudian melahirkan buah hatinya. Sosoknya
menjadi rumah pertama tempatmu menggantungkan diri selama 9 bulan lamanya. Ia
menjadi sosok yang mempertaruhkan nyawanya untuk membawamu ke dunia. Ia lah
kembali sosok yang menjadi sekolah pertama mata pelajaran kehidupan di rumah.
Pelajaran yang berkasan baik atau apapun itu. Bahagianya dia dengan suaminya
akan menjadi Bahagia mu. Sedih, gusar dan marahnya akan menjadi trauma yang
mungkin kamu bawa seumur hidupmu
Lalu
pertanyaan berikutnya, bukan kepada para keping wanita, tapi pada keping
lelaki. “Siapkah anda hadir?” bukan hanya untuk seorang anak, tapi juga suami
yang memuliakan istrinya yang menjadi ibu? Siapkah anda berjuang untuk hidup
lebih baik. Bukan hanya untuk diri sendiri namun untuk mereka yang percaya
dengan anda. Untuk mereka yang memanggilmu aba, ayah, bapak atau mungkin papah.
Untuk dia yang berjanji setia padamu, meninggalkan hangat keluarganya selama
ini. Untuk membersamaimu membangun keluarga bersamamu.
Inspirasi:
film “The Gods Must be Crazy” by
Jamie Uys.
Buku “101 Kisah Teladan” by Muhammad
Amin Al-Jundi.
Mas Nano, Penjual Bakso dekat rumah.
Nasihat Babeh Nacep.