Senin, 05 Januari 2026

Negeri Mangkok Bakso


(refleksi sosial tentang masyarakat ideal, keluarga dan Ibu oleh Muhammad Yusuf Abdul Karim, mahasiswa Universitas Mercu Buana Jakarta)

 

Pada suatu negeri nan jauh disana, jauh dari pandangan manusia modern. Ditengah padang rumput hijau, panas, kadang kering, kadang hujan. Luas tanpa sekat, tanpa batas yang mengikat. Dimana hidup hanya sesederhana bangun, berburu, makan, minum, menggandakan diri, kemudian tidur kembali. Dimana hidup Bersama adalah jalan satu-satunya untuk bertahan. Dimana kesendirian adalah jalan yang tak mungkin dipilih. Dimana segala sesuatu yang tersedia adalah milik Bersama yang dipakai Bersama, tanpa kepemilikan individu semata.

Di negeri tersebut tidak ada raja yang diangungkan. Tidak ada bangsawan yang dipertuankan. Tidak ada uang yang dipertuhankan selain hanya untuk sekedar dipertukarkan. Hanya ada manusia yang dipercaya berdiri tegak memimpin yang lain. Dihormati karena bisa berpikir lebih dari sekedar hari ini. Disayangi karena mampu memberi rasa aman bersama di atas bumi. Dihormati karena senantiasa membersamai dan mengayomi. Pemimpin yang mau berusaha bukan sekedar untuk diri dan golongannya. Namun berjuang yang terbaik bagi masyarakatnya dan juga negaranya.

Disana bukannya tidak ada perbedaan. Semuanya ada disana, hitam putih dan spektrum diantaranya. Besar, kecil dan ukuran yang beragam disana. Disana bukannya tidak ada yang lemah, miskin dan tak berdaya. Disana bukannya semua serba sudah baik, serba berkecukupan dan serba selaras dalam harmoni. Akan tetapi mereka sadar berbeda itu keniscayaan. Orang yang berbeda itu bukan berarti musuh yang harus dihancurkan. Namun perbedaan adalah kesempatan untuk saling mengenal dan memahami. Perbedaan itu adalah kesempatan saling untuk membantu dengan sesuatu yang kita miliki lebih disbanding yang lain. Dan bisa dibilang musuh sesungguhnya bukan lagi sesama manusia, melainkan kesombongan, kebodohan dan keserakahan yang saling menghancurkan satu sama lain.

Gambaran 3 paragraf tadi adalah potensi Indonesia sebagai masyarakat sosial yang ideal. Negeri yang begitu beragam, berbeda, dan kaya. Dimana manusianya seperti mangkok bakso. Putih di luar dan dalam. Bergambar ayam yang menunjukkan ketegasan sebagai identitas unik yang membedakan dari yang lain. Berisi beragam makna karena bermacam-macam pula isinya. Ditengah kuah kaldu yang menghampar ada daging bulat yang menjadi fokus utama. Ada bihun dan mie kuning yang mendampingi. Sedikit sayur hijau dan kecambah memberikan tambahan warna yang menyenangkan. Lalu kecap dan sambal yang makin memeriahkan suasananya.

Negeri semangkok bakso adalah gambaran Masyarakat Indonesia yang majemuk. Dia bisa berada dimanapun dan berisi apapun. Dia bisa berada di pinggir jalan, rumah bahkan pusat perbelanjaan. Tidak harus bakso semata, bisa saja mie ayam atau bubur ayam. Dia begitu tegas dan seragam namun siap untuk menjadi berbeda dan Bersatu. Bertumpuk, Bersama, berkumpul disudut gerobak dan dapur. Bersiap menghadapi pesanan yang datang bertubi.

Walaupun mungkin negeri mangkok bakso ini masih ada dalam cita-cita dan imaji. Namun ia bukan sekedar fantasi yang tak mungkin jadi nyata. walaupun mungkin negeri ini sangat jauh dari yang dicita-citakan bukan berarti kita bisa pergi dan kemudian “kabur aja dulu”. Karena disinilah kita berdiri, hidup dan kemudian mungkin mati. Karena tanah dan airnya-lah yang menjadikan kita hadir saat ini. Disinilah kita pernah menjadi bibit, kemudian tumbuh, menjalin cinta bahagia, sakit dan tertawa. Jika bukan kita yang memperjuangkan, maka siapa lagi? Jika bukan saat ini, maka kapan lagi? Terasa berat? Iya betul, karena pada akhirnya memang negeri mangkok bakso bukanlah pemberian namun perjuangan.

Perjuangan memang adalah kunci dari negeri mangkok bakso. Pertanyaan besarnya, “bagaimana pada akhirnya kita bisa turut berjuang”. Sedangkan kita saat ini mungkin hanya sekeping bagian mangkok yang terlanjur retak dan pecah. Hancur  berkeping-keping dari dalam karena ayah yang tak pulang dan ibu yang tak hadir. Hancur berkeping tajam terasah kerasnya keping yang lebih dulu hadir. Hancur menjadi keping yang lebih kecil lagi ditengah keluarga yang tak berfungsi. Bukan karena mereka tak ada secara fisik. Tapi mereka tiada dalam konteks makna, peranan, dan harapan. Karena hakekatnya perjuangan yang mendasar sesungguhnya bermula dari keluarga.

Karena negeri mangkok bakso ini takkan pernah ada tanpa keluarga yang solid didalamnya. Karena perjuangan adalah kunci dan fondasi perjuangannya bermula dari keluarga. Maka bersiapkah anda menjadi keluarga yang siap menciptakan kepingan-kepingan terbaik negeri mangkok bakso ini. Atau anda justru yang akan menghancurkan kepingan mangkok bakso berikutnya?

Dan Ketika membicarakan keluarga tak lengkap rasanya tak membahas Ibu. Seorang tokoh sentral yang menciptakan surga dunia di rumah. Bermula dari seorang wanita yang berjanji setia kepada lelakinya. Kemudian melahirkan buah hatinya. Sosoknya menjadi rumah pertama tempatmu menggantungkan diri selama 9 bulan lamanya. Ia menjadi sosok yang mempertaruhkan nyawanya untuk membawamu ke dunia. Ia lah kembali sosok yang menjadi sekolah pertama mata pelajaran kehidupan di rumah. Pelajaran yang berkasan baik atau apapun itu. Bahagianya dia dengan suaminya akan menjadi Bahagia mu. Sedih, gusar dan marahnya akan menjadi trauma yang mungkin kamu bawa seumur hidupmu

Lalu pertanyaan berikutnya, bukan kepada para keping wanita, tapi pada keping lelaki. “Siapkah anda hadir?” bukan hanya untuk seorang anak, tapi juga suami yang memuliakan istrinya yang menjadi ibu? Siapkah anda berjuang untuk hidup lebih baik. Bukan hanya untuk diri sendiri namun untuk mereka yang percaya dengan anda. Untuk mereka yang memanggilmu aba, ayah, bapak atau mungkin papah. Untuk dia yang berjanji setia padamu, meninggalkan hangat keluarganya selama ini. Untuk membersamaimu membangun keluarga bersamamu.

 

 

Inspirasi:

film “The Gods Must be Crazy” by Jamie Uys.

Buku “101 Kisah Teladan” by Muhammad Amin Al-Jundi.

Mas Nano, Penjual Bakso dekat rumah.

Nasihat Babeh Nacep.

Sabtu, 03 Januari 2026

Rasisme di Indonesia: Tantangan Serius bagi Integrasi Bangsa

Sebuah refleksi sosial oleh Adiarso Tegar Wibowo, mahasiswa prodi s1 psikologi universitas mercu buana.  


Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman etnis, budaya, dan agama. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi fondasi ideologis yang menegaskan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa rasisme masih menjadi masalah yang nyata. Kasus diskriminasi terhadap orang Papua, misalnya, memperlihatkan bahwa toleransi belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kehidupan berbangsa. Berikut ini tiga artikel yang memberikan gambaran nyata tentang diskriminasi yang masih terjadi:

  • Human Rights Watch menulis: “Orang asli Papua menghadapi diskriminasi sistematis dalam akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Kasus penyerangan terhadap asrama mahasiswa Papua di Surabaya tahun 2019 menjadi titik balik yang memicu protes besar.”
  • ReliefWeb menegaskan: “Jika ini bukan rasisme, lalu apa? Penangkapan massal, pembatasan kebebasan berekspresi, dan represi terhadap demonstrasi damai menunjukkan pola diskriminasi yang terstruktur terhadap orang Papua.”
  • Andreas Harsono dari HRW berkomentar: “Rasisme terhadap orang Papua bukan hanya terjadi di tanah Papua, tetapi juga di kota-kota besar Indonesia, mulai dari akses pekerjaan hingga perumahan.”

Cuplikan ini memperlihatkan bahwa rasisme di Indonesia bukan sekadar isu lokal, melainkan masalah nasional yang berdampak luas.

Rasisme sebagai Masalah Struktural

Rasisme di Indonesia tidak hanya hadir dalam bentuk ujaran kebencian atau stereotip negatif, tetapi juga dalam bentuk diskriminasi yang lebih sistematis. Orang Papua, misalnya, sering menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Kasus penyerangan terhadap asrama mahasiswa Papua di Surabaya tahun 2019 menjadi simbol nyata bagaimana stigma rasial dapat memicu konflik besar.

Lebih jauh, laporan dari Human Rights Watch dan ReliefWeb menegaskan bahwa diskriminasi terhadap Papua bukanlah insiden sporadis, melainkan pola yang berulang. Penangkapan massal, pembatasan kebebasan berekspresi, hingga penggunaan pasal makar terhadap aktivis Papua menunjukkan bahwa rasisme telah merembes ke dalam kebijakan negara.

Paradoks Kebangsaan

Indonesia mengusung nilai-nilai luhur melalui Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, praktik diskriminasi menunjukkan adanya paradoks kebangsaan. Di satu sisi, negara menjamin kebebasan beragama dan kesetaraan warga negara. Di sisi lain, kelompok tertentu masih mengalami perlakuan tidak adil.

Paradoks ini berbahaya karena dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap negara. Ketika orang Papua merasa tidak diperlakukan setara, maka ikatan kebangsaan menjadi rapuh. Hal ini berpotensi memperkuat tuntutan separatisme dan melemahkan integrasi nasional.

Dampak Sosial dan Politik

Rasisme memiliki dampak multidimensi:

  • Dampak Sosial: Munculnya segregasi sosial, di mana kelompok tertentu merasa terisolasi dari arus utama masyarakat.
  • Dampak Politik: Ketidakpercayaan terhadap pemerintah pusat, yang dapat memicu gerakan politik berbasis identitas.
  • Dampak Ekonomi: Diskriminasi dalam akses pekerjaan dan perumahan membuat kelompok minoritas sulit berkembang secara ekonomi.
  • Dampak Psikologis: Rasisme menimbulkan trauma kolektif yang diwariskan antar generasi, memperkuat rasa keterasingan.

Solusi yang Diperlukan

Mengatasi rasisme di Indonesia membutuhkan pendekatan yang komprehensif:

  1. Pendidikan Multikultural
    Kurikulum sekolah harus menekankan kesetaraan etnis dan menghargai keragaman. Pendidikan tidak boleh hanya menekankan pengetahuan akademis, tetapi juga membentuk karakter yang inklusif.
  2. Reformasi Kebijakan
    Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan pembangunan tidak diskriminatif. Program afirmasi bagi masyarakat Papua, misalnya, harus benar-benar dijalankan secara konsisten.
  3. Dialog Jujur
    Pemerintah dan masyarakat Papua perlu duduk bersama dalam dialog yang jujur dan terbuka. Dialog ini harus berangkat dari pengakuan bahwa rasisme memang ada dan perlu diatasi.
  4. Penegakan Hukum
    Ujaran maupun tindakan rasis harus ditindak tegas. Penegakan hukum yang konsisten akan memberikan pesan bahwa rasisme tidak bisa ditoleransi.

Refleksi Moral

Rasisme bukan hanya masalah politik atau sosial, tetapi juga masalah moral. Ia bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang menjadi dasar Pancasila. Selama diskriminasi masih terjadi, semboyan Bhinneka Tunggal Ika akan kehilangan makna.

Indonesia harus berani menghadapi kenyataan bahwa rasisme ada di tengah masyarakat. Mengabaikan masalah ini hanya akan memperburuk keadaan. Sebaliknya, mengakui dan mengatasinya akan memperkuat integrasi bangsa.

Kesimpulan

Rasisme di Indonesia, khususnya terhadap Papua, adalah tantangan serius bagi integrasi nasional. Ia bersifat struktural, berdampak multidimensi, dan berpotensi melemahkan ikatan kebangsaan. Solusi yang diperlukan bukan sekadar slogan, tetapi langkah nyata melalui pendidikan, kebijakan, dialog, dan penegakan hukum.

Jika Indonesia ingin benar-benar mewujudkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka rasisme harus diakui sebagai masalah bersama dan diatasi secara kolektif. Hanya dengan cara itu, integrasi bangsa dapat terjaga dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa terwujud.

 

 

Sumber

https://www.hrw.org/id/news/2024/09/19/indonesia-racism-discrimination-against-indigenous-papuans

https://reliefweb.int/report/indonesia/if-its-not-racism-what-it-discrimination-and-other-abuses-against-papuans-indonesia-enid

https://www.hrw.org/id/news/2024/12/16/390161